Kam. Jun 20th, 2019

BERITA HARIAN 888

BERITA TERKINI | BERITA TERPERCAYA | BERITA HARIAN

Rupiah Turun Mengarah ke Rp 15.000 Dolar

2 min read
Rupiah Turun Mengarah ke Rp 15.000 Dolar

Rupiah Turun Mengarah ke Rp 15.000 Dolar

BERITA TERPERCAYARupiah bergerak menuju Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat karena dikutip pada Rp 14.444 per dolar AS atau 0,57 persen lebih rendah dari hari sebelumnya, menurut Jakarta Spot Bank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Itu adalah hari kelima mata uang melemah terhadap greenback – Rp14.362 pada hari Senin, Rp13.347 Jumat lalu, Rp14.338 Kamis lalu dan Rp14.305 Rabu lalu.

Firma Futures, Monex Investindo Futures, analis Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah tidak dapat mempertahankan diri dari tekanan eksternal, terutama karena perang perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina, setelah diberlakukannya tarif impor yang lebih tinggi oleh administrasi Donald Trump pada produk-produk dari China .

“Para pelaku pasar khawatir bahwa AS juga akan memberlakukan tarif impor yang lebih tinggi untuk produk-produk dari negara lain,” kata Dini seperti dikutip oleh kontan.co.id, menambahkan bahwa dia, bagaimanapun, tidak mengharapkan rupiah untuk depresiasi lebih lanjut.

Baca juga : Ditangkap Karena Diduga Memukul Polisi

Dini memperkirakan nilai tukar rupiah akan berdiri di antara Rp14.420 dan Rp14.480 per dolar AS. Mata uang regional lain yang juga melemah terhadap dolar pada hari Selasa adalah rupee, yen, ringgit dan dolar Taiwan, sementara baht, yuan, dolar Singapura, menang, peso dan dolar Hong Kong menguat.

Sementara itu, analis bursa Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan para pelaku pasar masih menunggu dan melihat mode pada akhir perang perdagangan. Mereka percaya Cina akan membalas tarif impor baru AS.

Direktur Futures PT Garuda Berjangka presiden direktur Ibrahim mengatakan depresiasi rupiah akan berlanjut sampai tekanan eksternal pada pasar keuangan diringankan. QIUQIU99

Dia mengatakan rupiah melemah karena faktor domestik, terutama karena defisit transaksi berjalan, yang tercatat US $ 7 miliar pada kuartal pertama 2019 atau 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Angka tersebut merupakan peningkatan dari kuartal keempat 2018, yang melihat defisit berada pada 3,6 persen dari PDB, namun lebih buruk dibandingkan dengan posisinya di kuartal pertama 2018, yang tercatat sebesar $ 5,19 miliar atau 2,01 persen dari PDB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *